KHIDMAT DAN MAKRIFAT
http://Burusergapinfo.web.id
Senang, suka dan bergembiralah dengan khidmat, kepada siapapun. Terkhusus dan paling afdhol lagi kepada para masyayikh, Ulama, para guru, orang² tua, para ahli silsilah. Apalagi kepada guru Mursyid yang menuntunmu kepada Rabb-mu.


Imam Al-Ghazali rahimahullahu dalam karya-karyanya sering menekankan pentingnya bimbingan guru dalam perjalanan spiritual. Ia berkata, “Man la syaikha lahu fa syaithanuhu syaikhuhu”, yaknu Barang siapa tidak memiliki guru, maka setanlah yang menjadi gurunya.” Kalimat ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyadarkan bahwa perjalanan ruhani penuh dengan jebakan halus yang tak dapat dikenali tanpa bimbingan.


Dalam kesunyian malam, ketika seorang salik merenung di hadapan Rabb-nya, ia akan menyadari betapa rapuh dirinya. Ia akan menangis, bukan karena dunia, tetapi karena jarak antara dirinya dan Allah SWT. Di saat itulah, ia akan mengingat mursyidnya, sosok yang telah menuntunnya, yang telah bersabar menghadapi kerasnya hatinya, yang telah mendo’akannya dalam diam.
Khidmat kepada mursyid adalah bentuk syukur atas nikmat bimbingan. Sebab tidak semua orang diberi kesempatan untuk memiliki guru yang membimbing menuju Allah SWT. Banyak yang hidup dalam keramaian, namun hatinya kosong. Banyak yang berilmu, namun jiwanya kering. Dan hanya sedikit yang menemukan jalan yang benar-benar menghidupkan hati.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Al-mar’u ma’a man ahabba”, artinya “Seseorang akan bersama dengan yang ia cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jika seorang salik mencintai mursyidnya karena Allah SWT, maka cinta itu akan menjadi jembatan menuju kedekatan dengan Allah SWT. Namun cinta ini harus dijaga dari penyimpangan. Ia harus tetap berada dalam koridor syariat, tidak berlebihan, dan tidak melampaui batas.
Disini lah pentingnya keseimbangan antara syariat, tarekat, hakikat, dan ma’rifat. Khidmat tidak boleh mengabaikan syariat. Ia harus tetap berpijak pada hukum-hukum Allah SWT. Sebab jalan menuju Allah SWT tidak mungkin ditempuh dengan melanggar aturan-Nya. Justru dalam ketaatan itulah, khidmat menemukan maknanya yang sejati.
`Seorang salik yang berkhidmat dengan benar akan mengalami transformasi yang mendalam. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai pusat, tetapi sebagai hamba yang lemah. Ia tidak lagi mencari pengakuan, tetapi ridha Allah SWT. Dan dalam proses itu, ia akan merasakan kedamaian yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.`
Namun perjalanan ini tidak selalu indah. Ada saat-saat dimana hati terasa kering, do’a terasa hampa, dan langkah terasa berat. Di sinilah ujian khidmat diuji. Apakah ia tetap setia, atau mulai goyah? Apakah ia tetap percaya, atau mulai meragukan? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan sejauh mana ia akan melangkah.
Dalam sebuah hikmah disebutkan, “At-thariq ila Allah mazru’ah bil-makarih”, artinya “Jalan menuju Allah di taburi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan.” Namun justru disitu lah letak keindahannya. Sebab setiap kesulitan adalah pintu menuju kedekatan. Setiap luka adalah jalan menuju penyembuhan. Dan setiap air mata adalah saksi dari cinta yang tulus.
Khidmat kepada mursyid bukanlah tujuan akhir, tetapi sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi; ma’rifatullah. Mengenal Allah SWT bukan dengan akal, tetapi dengan hati yang bersih. Dan hati yang bersih hanya dapat di capai melalui proses panjang yang penuh dengan pengorbanan.
Di akhir perjalanan, seorang salik akan menyadari bahwa semua yang ia lakukan (da’wah, ngaji, dzikir ibadah, khidmat) semuanya adalah karunia dari Allah SWT. Ia tidak lagi melihat amalnya sebagai sesuatu yang besar, tetapi sebagai bentuk kelemahan yang membutuhkan rahmat. Disitu lah ia benar-benar sampai bukan karena usahanya, tetapi karena kasih sayang Allah SWT.
Maka dari itu, wahai jiwa yang sedang mencari, jangan remehkan khidmat. Jangan anggap ia sebagai sesuatu yang kecil. Sebab dalam khidmat itulah tersembunyi rahasia besar. Rahasia yang hanya akan terbuka bagi mereka yang sabar, yang ikhlas, dan yang benar-benar ingin sampai.
Ketika engkau telah merasakan manisnya khidmat, engkau akan menangis bukan karena sedih, tetapi karena syukur. Karena engkau telah menemukan jalan. Jalan yang sunyi, namun penuh cahaya. Jalan yang berat, namun penuh makna. Jalan yang membawa engkau pulang kepada Allah SWT.
Allahu a’lam.#Gus Imam
@Tuan Guru Batak bersama para masyayikh Tuan Guru Besilam dimasanya.
#tazkiyatunnafs
#perjalananruhani
#naqsyabandi
#salik
#suluk
#tarekat
#mursyid
#khalwat
Diterbitkan Oleh Kantor Redaksi Burusergapinfo
